![]() |
| Moh. Khazin Rahman Sekum (PPA) HMI Al-Khairat, Pamekasan. |
Oleh: Moh. Khazin Rahman*
Buletin - Bukan hal yang aneh bagi mahasiswa baru merasakan kebingungan dan keambiguan dengan status barunya sebagai mahasiswa, meskipun sudah melaksanakan PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan). Menjadi mahasiswa baru tentunya banyak hal baru pula yang diketahui selama pelaksanaan PBAK, istilah agen of change, agen sosial control, dan agen-agen lain. Sehingga bagi mahasiswa baru yang sadar ternyata begitu banyaknya beban dan tanggung jawab seorang masasiswa, selain dituntut mengembangkan ilmu, kompetisi, serta peran dan fungsinya sebagai pelajar di perguruan tinggi, ternyata mahasiswa juga sebagai corong pembela rakyat dalam banyak persoalan.
Kegiatan belajar mengajar di ruang kelas hanya mampu mengembangkan ke ilmuan sesuai dengan studi masing-masing tidak lebih dari itu, jika pun ada itupun tak seberapa besar jumlahnya. Karena ruang waktu yang terbatas dan dituntut untuk fokus terhadap mata pelajaran sesuai silabus dan target pembelajaran, serasa tidak memungkinkan untuk mengembangkan materi lain diluar mata pelajaran. Beda lagi dengan sikap malu-malu yang kebanyakan dialami mahasiswa baru, malu berbicara diruang publik menjadikan lidah kaku dan tidak percaya diri, apalagi nanti ketika ada tugas persentasi menyampaikan materi, belum lagi bingung cara menyusun tugas makalah yang diberikan dosen pengampuh mata pelajaran.
Kondisi demikian pasti akan dilalui oleh semua orang yang berstatus sebagai mahasiswa, dari sekian banyak tugas dan fungsinya. hal yang paling utama adalah mengembangkan diri dengan berbagai disiplin keilmuan dan berbagai macam keterampilan. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak dulu dengan misinya “Membina insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala...”. sebuah misi besar dan bukan hal yang berlebihan jika dikatakan sebagai kampus kedua kita.
Jika penulis tafsiri lebih detail lagi tentang misi HMI tersebut: Pertama, Membina insan akademis: istilah umum yang disandang oleh seorang mahasiswa (insan akademis) untuk membina kadernya (anggotanya) dalam banyak bidan dan kompetesi sesuai bakat dan minatnya. Bagi organisasi tertua dan terbesar seperti HMI bukan hal yang sulit untuk menyuguhkan orang-orang yang berkompetensi diberbagai bidang, karena HMI mempunyai hubungan kuat dengan para alumninya (KAHMI) yang sudah mempunyai kedudukan strategis diberbagai tingkatan, termasuk di Tokoh Nasional seperti yang dibahas di selembaran sebelumnya.
Kedua, pencipta dan pengabdi. Sebagai kader HMI pencipta dan pengabdi adalah merupakan kewajiban, dengan bekal pembinaan yang sering dilakukan dalam tubuh himpunan, sesuai dengan kemauan dan kompetensinya. Menulis seperti ini adalah salah satu bentuk penciptaan hal kecil yang menjadi kebiasaan kader HMI secara umum. Apapun bentuk penciptaan yang dilakukan kader HMI tersebut merupakan bentuk pengabdian, menciptakan sesuatu yang mempunya dampak dan manfaat besar terhadap masyarakat umum dan tidak bertentangan dengan syariat Islam, dalam misinya disebut dengan istilah “Bernafaskan Islam”. Degan maksud, semua pembinaan, penciptaan dan pengabdian harus bernafaskan islam.
Ketiga, Bertanggung jawab atas terwujudnya masyrakat adil, makmur yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan puncak dari inti kehidupan manusia adalah keridhaan. Hal tersebut merupakan akhir dari perjalanan kader HMI, merelakan diri sebagai abdi dari umat Islam dan bangsa Indonesia. Jadi, sudah hal lumrah sebagai alumni HMI yang dikenal dengan sebutan KAHMI cenderung aktif dalam dua hal sentral di negeri ini: sebagai Pendidik dan Pelaku Politik. Karena dengan dua hal tersebut akan lebih mudah menwujudkan masarakat adil dan makmur.
Penulis mengajak dengan senang hati para mahasiswa baru untuk bergabung, sebagai kader, berperoses bersama ditubuh Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Pamekasan Komisariat Al-Khairat. Tidak lain sebagai solusi untuk menjawab keragu raguan dari banyak persoalan untuk menemukan jati diri yang sebenarnya.
*Penulis merupakan Sekum (PPPA) Penelitian Pengambangan dan Pengkaderan Anggota HMI Komisariat Al-Khairat.

Comments
Post a Comment