Oleh. Moh Makinun Amien*
Sangat disayangkan dunia pendidikan pada akhir-akhir ini menjadi sorotan dan perbincangan bahkan diskusi sangat panjang, mulai dari tukang becak hingga meja akademisi. karakter pendidikan bangsa yang sudah mulai pincang, hal ini dibuktikan dengan kejadian terbunuhnya bapak Achmad Budi Cahyanto guru SMAN 1 Torjun ditangan siswanya sendiri, berselang beberapa pekan kembali publik pendidikan dicengangkan kasus pencabulan oleh guru PNS SMP Negeri 6 Jombang yang diduga dengan dua puluh lima korban sekaligus, dan yang paling terbaru hal yang serupa terjadi di Kediri siswa SMP yang disetubuhi Tiga ABG dalam keadaan mabuk dan mereka semua adalah siswa. (Sumber; Jawa Pos). Kejadian bejat ini terjadi dalam kurun waktu yang sangat singkat, hanya separuh bulan Februari. Inilah wajah pendidikan di Negara tercinta sekarang ini, pada hal fungsi dan tujuan pendidikan seperti yang tertuang dalam UU Tahun 2003 pasal 3 bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tentunya untuk mengwujukan tujuan pendidikan yang disebut harus diperankan dan dipengaruhi oleh berbagi aspek diantaranya.
Peran orang tua, atau penanggung jawab.
Orang tua berperan utama dalam suksesi pendidikan anak, seyogyanya kewajiban untuk memberi didikan, pengajaran, bimbingan itu adalah orang tua lansung. Namun dirasa saat ini ada Lembaga Pendidikan, pusat dalam kegiatan belajar mengajar, dan disertai dengan ketidak piawaian untuk mendidik sendiri, maka bukan hal yang wajar lagi menitipkan anak kepada lembaga formal maupun non formal disekitar, dan orang tuapun hanya fokus dalam nafaqah atau finansial yang akrab disebut biaya kebutuhan hidup dan pendidikan keluarga. Namun dewasa ini gaya hidup yang demikian sudah tidak relevan, selain itu yang dianggap cukup melengkapi kebutuhan dengan materi, finansial semata, ada hal lain yang sangat berpengaruh dan dibutuhkan oleh anak terlebih diusia pertumbuhan – menginjak dewasa, itu merupakan kasih sayang, perhatian, langsung dari orang tua. Sehingga pola pikir atau psikologi anak tidak liar, dan hal ini bukan bermaksud untuk membatasi psikomotorik anak, namun memaksimalkan efektifitas yang berdampak pada kognitifnya. Tak jarang banyak kasus terjadi ketika ditelusuri mereka kurang komunikasi, dan perhatian dari orang tua selaku pendidik yang sebenarnya. Selain itu, tindakan, kegiatan, atau perbuatan orang tua itu berpengaruh besar dalam membentuk karakter anak, karena anak belajar dengan indra baik penglihatan, pendengaran ataupun yang lainnya, selain juga didorong oleh faktor genetik (keturunan) dan hal itu pengaruhnya tidak signifikan dibandingkan faktor yang sudah dipaparkan sebelumnya.
Peran tenaga pendidik.
Guru, atau tenaga pendidik merupakan panjang tangan dari orang tua, dipandang penting bagi orang tua tahu betul dimana anaknya akan melahab menu pengetahuan dan kualitas kelayakan menu yang akan dilahab, karena sebuah pengetahuan akan menjadi ilmu sebagai terapan. Disinilah awal dari semua karakter terbentuk, Imam Ghazali menyampaikan dalam kitab minhaj al-‘abidin nya, “Ilmu yang wajib diketahui ada tiga; ilmu tauhid, ilmu alsirr (ilmu yang berhubungan dengan hati), dan ilmu syariah.
Dewasa ini tak jarang pendidik dan peserta didik hanya selesai diruang pembelajaran saja, sangat disayangkan dan hal ini bukan sebuah kelayakan menjadi tradisi pendidikan, dan sama sekali tidak sesuai dengan tujuan pendidikan yang tertuang dalam UU tahun 2003 diatas, lalu bagaimana karakter anak bangsa akan terbentuk? Maka kemudian, seorang pendidik selaku wakil atau orang tua kedua bagi peserta didik akan dijadikan teladan dari setiap hal dan pola kehidipannya. (Guru adalah cermin, jika cerminnya retak maka bayangan yang dihasilkan juga retak) istilah ini tak asing kita dengarkan. Namun jika Sahabat, sepupu, sekaligus menantu Rasulullah, Sayyidina Ali ibn Abi Thalib RA yang beliau juluki sebagai Madinah al-Ilmu rela menjadi budak bagi yang mengajarinya walau hanya satu huruf, kenapa kita tidak.
Namun salah satu penyakit baru yang harus dihilangkan dari peserta didik, ialah membedakan istilah guru, ustadz, dosen, dll. yang tak jarang ditemui baik berupa ucapan ataupun tidakan dari hal ini, sudah mulai tampak hilangnya karakter dan jati diri sebagi peseta didik. Bagaimanapun yang kita istilahkan sejatinya pendidik merupakan ‘orang yang memberi ilmu’ dan peserta didik merupakan ‘orang pencari ilmu’.
Peran lingkungan belajar.
Pengaruh terbesar selain orang tua dan guru adalah lingkungan, nah dari inilah terkadang kita kurang menyadari bagaimana pentingnya lingkungan belajar yang harus dibangun dalam pendidikan saat ini, perlu disadari lingkungan belajar yang kita pahami saat ini bukan sekadar tempat belajar yang biasa digunakan, tapi semua lingkungan yang sekiranya mendukung atas tumbuhnya semangat belajar dan memberi pengetahuan tambahan bagi peserta didik. Jika lingkungan tidak mendukung dirasa kurang lengkap konsep full day school yang diterapkan oleh lembaga pendidikan sekitar, dengan tujuan sebagai solusi dan merevolusi karakter bangsa sesaui dengan visi misi Presiden RI.
Generasi melinial atau akhir-akhir ini akrab dengan sebutan generasi zaman now yang nota bene bisa dikata dengan generasi dunia ICT (Information Communications Technology) sudah tak bisa terlepas dari sosial kehidipan, risert mengatakan otak seorang anak yang nonton SpongeBob SquarePants satu epesode menurun 14% apalagi yang lebih tidak baik selain itu, bayangkan! Kemudahan untuk mengakses banyak hal ini juga perlu diperhitungkan, demi karakter anak didik kita. Kembali pada awal, orang tua turut andil dan berperan penting dalam pembangunan karakter dari setiap anak didik, bagaimana kegiatan, tontonan, dan teman harus diperhatikan lebih serius lagi, diawasi penuh kasih sayang dengan pengarahan sesuai kebutuhan.
Namun semua konsep diatas sudah lengkap di pondok pesantren, lumbungnya pendidikan karakter yang sampai sekarang menjadi identitas pendidikan negeri tercinta ini, dalam kendali kiai pondok pesantren dalam perkembangannya semakin pesat diseluruh bidang ilmu pengetahuan hampir ada dipesantren, karena pesantren tetap mempertahankan tradisi klasik yang baik, dan tidak pula mengabaikan tradisi kontenporer yang lebih baik. Sehingga pengetahuan yang ada di pesantren tetap relevan sesuai pada zamannya. Kekhawatiran diatas bukan sebuah masalah besar, dengan lingkungan riligius dan aktifitas keagamaan yang padat, serta larangan-larang yang dinilai sebagai pelanggaran yang kemungkinan melakukan suatu hal yang kurang baik itu sedikit. Ditambah porsi belajar yang lebih banyak, serta pengawasan yang ketat doan aman dengan sistem pendidikannya, sampai sat ini pesantren diakui sebagai salah satu identitas nusantara dan indonesia dikenal dengan negara santrinya, yang berkontribusi besar atas kemerdekaannya dengan gerakan resolusi jihad 22 Oktober yang sekarang dijadikan sebagai hari santri nasional.
*Kabid Kewirausahaan, Pengembangan Bakat, Profesi HMI Al-Khairat, dan Mahasiswa Semister VI Manajemen Pendidikan Islam di STAI Al-Khairat Pamekasan
Sangat disayangkan dunia pendidikan pada akhir-akhir ini menjadi sorotan dan perbincangan bahkan diskusi sangat panjang, mulai dari tukang becak hingga meja akademisi. karakter pendidikan bangsa yang sudah mulai pincang, hal ini dibuktikan dengan kejadian terbunuhnya bapak Achmad Budi Cahyanto guru SMAN 1 Torjun ditangan siswanya sendiri, berselang beberapa pekan kembali publik pendidikan dicengangkan kasus pencabulan oleh guru PNS SMP Negeri 6 Jombang yang diduga dengan dua puluh lima korban sekaligus, dan yang paling terbaru hal yang serupa terjadi di Kediri siswa SMP yang disetubuhi Tiga ABG dalam keadaan mabuk dan mereka semua adalah siswa. (Sumber; Jawa Pos). Kejadian bejat ini terjadi dalam kurun waktu yang sangat singkat, hanya separuh bulan Februari. Inilah wajah pendidikan di Negara tercinta sekarang ini, pada hal fungsi dan tujuan pendidikan seperti yang tertuang dalam UU Tahun 2003 pasal 3 bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tentunya untuk mengwujukan tujuan pendidikan yang disebut harus diperankan dan dipengaruhi oleh berbagi aspek diantaranya.
Peran orang tua, atau penanggung jawab.
Orang tua berperan utama dalam suksesi pendidikan anak, seyogyanya kewajiban untuk memberi didikan, pengajaran, bimbingan itu adalah orang tua lansung. Namun dirasa saat ini ada Lembaga Pendidikan, pusat dalam kegiatan belajar mengajar, dan disertai dengan ketidak piawaian untuk mendidik sendiri, maka bukan hal yang wajar lagi menitipkan anak kepada lembaga formal maupun non formal disekitar, dan orang tuapun hanya fokus dalam nafaqah atau finansial yang akrab disebut biaya kebutuhan hidup dan pendidikan keluarga. Namun dewasa ini gaya hidup yang demikian sudah tidak relevan, selain itu yang dianggap cukup melengkapi kebutuhan dengan materi, finansial semata, ada hal lain yang sangat berpengaruh dan dibutuhkan oleh anak terlebih diusia pertumbuhan – menginjak dewasa, itu merupakan kasih sayang, perhatian, langsung dari orang tua. Sehingga pola pikir atau psikologi anak tidak liar, dan hal ini bukan bermaksud untuk membatasi psikomotorik anak, namun memaksimalkan efektifitas yang berdampak pada kognitifnya. Tak jarang banyak kasus terjadi ketika ditelusuri mereka kurang komunikasi, dan perhatian dari orang tua selaku pendidik yang sebenarnya. Selain itu, tindakan, kegiatan, atau perbuatan orang tua itu berpengaruh besar dalam membentuk karakter anak, karena anak belajar dengan indra baik penglihatan, pendengaran ataupun yang lainnya, selain juga didorong oleh faktor genetik (keturunan) dan hal itu pengaruhnya tidak signifikan dibandingkan faktor yang sudah dipaparkan sebelumnya.
Peran tenaga pendidik.
Guru, atau tenaga pendidik merupakan panjang tangan dari orang tua, dipandang penting bagi orang tua tahu betul dimana anaknya akan melahab menu pengetahuan dan kualitas kelayakan menu yang akan dilahab, karena sebuah pengetahuan akan menjadi ilmu sebagai terapan. Disinilah awal dari semua karakter terbentuk, Imam Ghazali menyampaikan dalam kitab minhaj al-‘abidin nya, “Ilmu yang wajib diketahui ada tiga; ilmu tauhid, ilmu alsirr (ilmu yang berhubungan dengan hati), dan ilmu syariah.
Dewasa ini tak jarang pendidik dan peserta didik hanya selesai diruang pembelajaran saja, sangat disayangkan dan hal ini bukan sebuah kelayakan menjadi tradisi pendidikan, dan sama sekali tidak sesuai dengan tujuan pendidikan yang tertuang dalam UU tahun 2003 diatas, lalu bagaimana karakter anak bangsa akan terbentuk? Maka kemudian, seorang pendidik selaku wakil atau orang tua kedua bagi peserta didik akan dijadikan teladan dari setiap hal dan pola kehidipannya. (Guru adalah cermin, jika cerminnya retak maka bayangan yang dihasilkan juga retak) istilah ini tak asing kita dengarkan. Namun jika Sahabat, sepupu, sekaligus menantu Rasulullah, Sayyidina Ali ibn Abi Thalib RA yang beliau juluki sebagai Madinah al-Ilmu rela menjadi budak bagi yang mengajarinya walau hanya satu huruf, kenapa kita tidak.
Namun salah satu penyakit baru yang harus dihilangkan dari peserta didik, ialah membedakan istilah guru, ustadz, dosen, dll. yang tak jarang ditemui baik berupa ucapan ataupun tidakan dari hal ini, sudah mulai tampak hilangnya karakter dan jati diri sebagi peseta didik. Bagaimanapun yang kita istilahkan sejatinya pendidik merupakan ‘orang yang memberi ilmu’ dan peserta didik merupakan ‘orang pencari ilmu’.
Peran lingkungan belajar.
Pengaruh terbesar selain orang tua dan guru adalah lingkungan, nah dari inilah terkadang kita kurang menyadari bagaimana pentingnya lingkungan belajar yang harus dibangun dalam pendidikan saat ini, perlu disadari lingkungan belajar yang kita pahami saat ini bukan sekadar tempat belajar yang biasa digunakan, tapi semua lingkungan yang sekiranya mendukung atas tumbuhnya semangat belajar dan memberi pengetahuan tambahan bagi peserta didik. Jika lingkungan tidak mendukung dirasa kurang lengkap konsep full day school yang diterapkan oleh lembaga pendidikan sekitar, dengan tujuan sebagai solusi dan merevolusi karakter bangsa sesaui dengan visi misi Presiden RI.
Generasi melinial atau akhir-akhir ini akrab dengan sebutan generasi zaman now yang nota bene bisa dikata dengan generasi dunia ICT (Information Communications Technology) sudah tak bisa terlepas dari sosial kehidipan, risert mengatakan otak seorang anak yang nonton SpongeBob SquarePants satu epesode menurun 14% apalagi yang lebih tidak baik selain itu, bayangkan! Kemudahan untuk mengakses banyak hal ini juga perlu diperhitungkan, demi karakter anak didik kita. Kembali pada awal, orang tua turut andil dan berperan penting dalam pembangunan karakter dari setiap anak didik, bagaimana kegiatan, tontonan, dan teman harus diperhatikan lebih serius lagi, diawasi penuh kasih sayang dengan pengarahan sesuai kebutuhan.
Namun semua konsep diatas sudah lengkap di pondok pesantren, lumbungnya pendidikan karakter yang sampai sekarang menjadi identitas pendidikan negeri tercinta ini, dalam kendali kiai pondok pesantren dalam perkembangannya semakin pesat diseluruh bidang ilmu pengetahuan hampir ada dipesantren, karena pesantren tetap mempertahankan tradisi klasik yang baik, dan tidak pula mengabaikan tradisi kontenporer yang lebih baik. Sehingga pengetahuan yang ada di pesantren tetap relevan sesuai pada zamannya. Kekhawatiran diatas bukan sebuah masalah besar, dengan lingkungan riligius dan aktifitas keagamaan yang padat, serta larangan-larang yang dinilai sebagai pelanggaran yang kemungkinan melakukan suatu hal yang kurang baik itu sedikit. Ditambah porsi belajar yang lebih banyak, serta pengawasan yang ketat doan aman dengan sistem pendidikannya, sampai sat ini pesantren diakui sebagai salah satu identitas nusantara dan indonesia dikenal dengan negara santrinya, yang berkontribusi besar atas kemerdekaannya dengan gerakan resolusi jihad 22 Oktober yang sekarang dijadikan sebagai hari santri nasional.
*Kabid Kewirausahaan, Pengembangan Bakat, Profesi HMI Al-Khairat, dan Mahasiswa Semister VI Manajemen Pendidikan Islam di STAI Al-Khairat Pamekasan

Comments
Post a Comment