Skip to main content

HMI; sejarah dan Tokoh yang Dilahirkan


Oleh. Moh. Makinun amien
Buletin - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi Mahasiswa yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947 dua tahun setelah kemerdekaan Negara Ripublik Indonesia, yang di prakarsai oleh Prof. Drs. Lafran Pane bersama empat belas kawannya di Sekolah Tinggi Islam, sekarang dikenal dengan nama Universitas Islam Indonesia.

Meskipun Indonesia sudah diprolamirkan kemerdekaannya oleh bapak Ir. Soekarno yang didampingi Drs. Mohammat Hatta pada Jum’at 17 Agustus 1945 silam. Indonesia yang dikenal dengan Hindia-Belanda waktu itu dipimpin pemerintahan jepang yang di bawah pengawasan Nippon Hoso Kyoko. Setelah Herosima dan Nagsaki di bom atom oleh tentara Amerika serikat beserta sekutunya, termasuk negara jajahan jepang pun juga dikuasai salah satunya Indonesia.

Tentara Belanda yang mereka sebut dengan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) ini hilir mudik dengan truk dan tentaranya kembali menguasai jakarta, dan pusat sentral pemerintahan sera wacana penangkapan Bung Karno dan Bung Hatta mulai tersebar luas, yang kemudian sultan Hamengkubuwono IX mempersilahkan agar Ibu Kota pindah ke Yogyakarta, pindahlah semua tokoh-tokoh bangsa, lembaga pendidikan, termasuk pengusaha dan cendikiawan Indonesia seperti ayah dari pendiri HMI, beserta keluarga lainnya termasuk kedua kakaknya Sanusi Pane dan Armijn Pane keduanya adalah kawan Buya Hamka di redaksi majalah Panji Masyarakat.

Hingga dua tahun berlalu, sementara Belanda terus menambah kekuatan dengan mendatangkan persenjataan yang lebih modern untuk mempersiapkan Agresi Mileter Belanda I. Sebelum Agresi Meliter tersebut Lafran Pane sudah mendirikan organisasi Mahasiswa Islam yang disebut dengan HMI, bertujuan untuk Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi drajat  Rakyat Indonesia. serta menegakkan dan mengembangkan ajaran Agama Islam.

Pada tanggal 21 Juli 1947 terjadilah Agresi Militer Belanda I, dengan situasi tersebut para mahasiswa yang masih mempunyai ideologi murni tetap bersatu mengahadapi Belanda termasuk mahasiswa yang tergabung dalam organisasi HMI.

Perjuangan HMI untuk mempertahankan bangsa ini tidak berhenti meski Belanda-Jepang sudah tidak lagi menjajah, selanjutnya yang menjadi musuh HMI di masa pemerintahan Bung Karno adalah PKI, yang memfitnah HMI sebagai anak kandung masyumi yang menjadi partai oposisi pada pemerintahan Bung Karno dan HMI pun difitnah oleh Underbouw PKI (CGMI) bahwa pergerakannya ingin menggulingkan pemerintahnya, ketetapan Bung Karno untuk tidak membubarkan HMI tidak bisa diintervensi oleh PKI, karena bagi Bung Karno HMI bukan organisasi yang kontra revolusi. Bahkan sang proklamator memberi support kepada HMI dengan berkata:  Go Ahead HMI! (Maju Terus HMI), Lanjutkan!.

Bukan hanya PKI yang memfitnah HMI, HMI difitnah agar orang-orang menjauhi bahkan membenci HMI. Secara organisasi kemahasiswaan HMI sering difitnah sebagai organisasi yang Radikal, tak jarang pula dianggap sebagai anak dari Muhammadiyah karena aktivitas HMI banyak didukung usaha amal Muhammadiyah, dan alumni-alumni HMI pun tidak sedikit menjadi tokoh di NU. Lalu HMI itu siapa dan Bagaimana?, MHI itu dibangun untuk menghimpun mahasiswa muslim, dari madzab dan aliran apapun, yang penting mahasiswa Islam.

Tak heran jika pendiri HMI Prof. Dr. Lafran Pane di anugerahi sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 2017, tak jauh beda dengan yang dikatakan wakil Presiden RI Jusuf Kalla tentang ketokohan Lafran Pane sebagai pendiri HMI, “Kalau pendirinya menjadi pahlawan nasional, berarti yang didirikan adalah aset nasional”. Dalam sambutannya di acara pelantikan pengurus Nasional KAHMI di Jakarta.

Istilah aset nasional bukan hal yang berlebihan jika disandangkan kepada HMI, karena terbukti lebih dari 60 orang alumni HMI (KAHMI) yang menjadi tokoh nasional yang berperan besar untuk pembangunan negeri ini (Baca, Tokoh HMI). Diantaranya wakil presiden RI Jusuf Kalla, Hamzah Haz (2001-2004). Tokoh pendidikan; Azyumardi Azra, Muhammad Nuh, Komaruddin Hidayat, Amin Abdullah. Tokoh Intelektual; Nurcholis Madjid, Yudi Latif, Kuntowijoyo, dan Syafii Maarif.

Adapun Tokoh yang masyhur disemua kalangan antara lain: Anies Baswedan (Gubernur DKI), Mahfud MD, Karni Ilyas (Presiden ILC), Amien Rais, Zulkifli Hasan (Ketua MPR RI), Yusril Ihza Mahendra, Sudirman Said, Abraham Samad, Busyro Muqqodas, Artijo Alkostar, Akbar Tanjung, Muhammad Rizieq Shihab, Ust. Arifin Ilham, Hatta Rajasa, Gus Saifullah Yusuf, dan Abu Bakar Ba’asyir.

*Penuis merupakan Ketum (PPPA) Penelitian Pengembangan dan Pembinaan Anggota HMI Al-Khairat, Pamekasan. Tulisannya sering dimuat dimedia cetak ataupun online.


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

HMI Al-Khairat Adakan Diskusi - Nobar Pringati G30SPKI

Tiga dari kanan: Ketua Umum HMI Al-Khairat Ahamad Suhri mendampingi pembicara Ust. Muhammad Khalilurrahman.  Palengaan - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pamekasan Komisariat Al-Khairat adakan Diskusi hingga Nonton bareng film gerakan 30 september Partai Komunis Indonesia (G30SPKI) di halaman gedung komisariat, jln. Masjid Bentoul Potoan Daya Palengaan Pamekasan, Rabu (02/10/2019). Untuk mengisi kajian, kawan-kawan HMI Al-Khairat mendatangkan Ust. Muhammad Khalilurrahman salah satu asatidz Pon. Pes Mambaul Ulum Bata-bata yang banyak paham tentang sejarah Indonesia dan Sejarah Islam secara umum. Kegiatan yang di mulai setelah shalat isya' tersebut diikuti puluhan kader HMI Al-Khairat yang membahas tentang sejarah masuknya PKI ke Indonesia hingga puncak gerakan 30 sepetember, termasuk dinamika pergerakannya. Agenda ini merupakan inisiatif Kabid Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Kepemudaan (PTKP) Ahmad Rofiqi dan Ubaidillah, mereka berharap dengan mengingat kembali...

Film The Santri dalam Sorotan

Moh. Khozin Rohman (Wa Sekum Kabid PPPA HMI Al-Khairat, Pamekasan)  Oleh. Moh. Khozin Rohman * Opini - Perdebatan yang tiada henti tentang perselisihan antar pro dan kontra terhadap  penayangan film “the santri” dimulai dari munculnya trailer yang menampilkan sedikit scene yang menurut beberapa golongan memberikan pesan yang tidak mencerminkan tradisi pesantren itu sendiri. Disisi lain ada juga yang bangga dengan adanya film the santri yang syarat akan hikmah dan amanah positif, menggambarkan pesantren Indonesia dan tradisinya yang selalu teguh terhadap ajaran agama dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Film yang akan di rilis oktober ini mengulas tentang nilai dan tradisi pembelajaran di pondok pesantren yang mandiri, sederhana, toleran, dan cinta tanah air. Kritik muncul setelah trailer di tayangkan. Banyak kalangan dari ummat muslim tidak merasa perlu menonton utuh filmnya di bioskop nanti untuk menyatakan menolak. Seperti yang di utarakan oleh beberapa tokoh,...

Closing Ceremony LK1 HMI Al-Khairat

Dari Kanan : Moh. Makinun Amien (SC), Nurul Huda (MoT), Ach. Hokim (Ketua Umum HMI Cabang Pamekasan), Ahmad Suhri (Ketua Umum HMI Komisariat Al-Khairat), dan Moh. Khozin Rohman (Ketua Panitia) Kertagenah - Closing Ceremony Latihan Kader 1 HMI Cabang Pamekasan Komisariat Al-Khairat berjalan efektif di aula SMA Miftahul Ulum (Yaspimu) Kertagenah Tengah Kadur Pamekasan, Senin (11 November 2019) Kegiatan penutupan LK1 tersebut sejak pukul 05.00 Wib, sebelumnya diagendakan pukul 04.30, namun ada beberapa berkas administrasi belum selesai sehingga lambat tiga puluh menit, ungkap Moh. Khozin Rohman selaku ketua panitia. Iya juga menyampaikan dalam sambutannya bahwa "Lulus Latihan Kader 1 ini bukan akhir dari peroses, tapi ini merupakan awal dari perjuangan" pungkasnya. Disambung juga oleh Ketua Umum HMI Komisariat Al-Khairat Ahmad Suhri dalam sambutannya mengajak kader yang baru selesai mengikuti latihan tersebut untuk selalu semangat berjuang mengabdi untuk bangsa da...